Majalengka Dijuluki Kota Angin, Oh Ternyata Ini Penyebabnya, Rok Bisa Tersingkap

Kabupaten Majalengka dijuluki kota angin karena faktor Gunung Ciremai.-BTNGC-radarmajalengka.com
MAJALENGKA, RADARMAJALENGKA.COM - Kabupaten MAJALENGKA dijuluki kota angin. Sebutan ini, tidak lepas dari kondisi geografis wilayahnya.
Lokasi Majalengka yang terletak di sisi timur Provinsi Jawa Barat, 30 persen wilayahnya berada di dataran tinggi dan terdapat 2 gunung.
Yakni, Gunung Ciremai di sisi selatan dan timur juga Gunung Cakrabuana di sisi barat daya yang berbatasan dengan Kabupaten Garut juga Sumedang.
Julukan yang sering disematkan, kepada Kabupaten Majalengka ialah sebagai kota angin dan penyematan kota angin bukan tanpa alasan.
BACA JUGA:Jalur Mudik Jalan Cadas Pangeran Sepi Imbas TOL CISUMDAWU, Pedagang Oleh-oleh Merana
Ketua Grumala (Group Madjalengka Baheula) yang juga penikmat sejarah, Nana Rohmana menjelaskan bahwa julukan kota angin diduga pertama kali diucapkan oleh orang dari luar daerah.
Namun menurut Naro sapaan akrabnya, kencangnya kecepatan angin ini di Majalengka tidak pernah menjadi persoalan bagi masyarakat sekitar dan fenomena angin kencang bagi warga Majalengka tidak asing dialami.
Sehingga bisa dipastikan lanjutnya kenapa dibilang kota Angin, menurut Naro karena angin di Kabupaten Majalengka memang cukup kencang.
"Awal disebut 'Kota Angin' mungkin dari orang luar daerah yang datang ke sini karena merasa kaget dengan anginnya yang gede. Orang Majalengka sendiri tidak mempermasalahkan angin gede ini," kata Naro.
BACA JUGA:Alasan Jusuf Hamka Ngotot Sebut Pembangunan TOL CISUMDAWU Tak Pakai Uang Negara, Ini Sebabnya
Menariknya, ada penamaan angin berdasarkan kekuatannya secara lokal oleh masyarakat Majalengka. Misalnya angin ngagelebug hingga angin jalu.
"Ada angin ngegelebug, itu karena kencang suaranya. Ini penamaan oleh masyarakat di Majalengka sejak dulu," tuturnya.
Kemudian, ada juga penamaan angin bukan karena suara yang ditimbulkan, tetapi karena kecepatannya. Misalnya angin jalu.
"Kenapa angin jalu karena konotasinya kalau perempuan pakai rok bisa tersingkap roknya, gitu. Tapi kalau dari sejarah, enggak ada saya cari-cari soal angin itu," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: