“Satu mesin robotik bisa menggantikan 200 hingga 700 pekerja. Efisiensi meningkat, tetapi risiko pengurangan tenaga kerja juga besar,” ujarnya.
Ia menilai peningkatan kapasitas dan keterampilan buruh menjadi agenda mendesak. Tanpa pelatihan dan peningkatan kompetensi, buruh Majalengka berisiko tersisih dalam persaingan industri modern.
“Kami mendorong pemerintah daerah dan Dewan Pengupahan untuk lebih serius memberikan bimbingan dan pelatihan agar pekerja siap menghadapi perubahan teknologi,” kata Usep.
BACA JUGA:Persis Solo vs Persib Bandung, Nyaman di Puncak Klasemen Super League
Kepemimpinan Baru dan Harapan Perubahan
Muscab tersebut menetapkan Ade Riki Junaedi sebagai Ketua PC F SP TSK R-KSPSI Kabupaten Majalengka periode 2026–2031. Pelantikan ini sekaligus menandai berdirinya PC KSPSI Majalengka secara mandiri sejak 31 Januari 2026.
Dalam sambutannya, Ade Riki menegaskan komitmennya memperkuat soliditas internal dan menjadikan serikat sebagai ruang konsolidasi yang hidup, bukan sekadar simbol gerakan.
“Ini bukan hanya pergantian kepemimpinan, tetapi awal babak baru. Amanah ini harus dijaga dengan konsistensi berorganisasi dan penguatan diskusi di tingkat basis,” ujarnya.
Ketua demisioner Asep Odin mengakui perjalanan organisasi diwarnai berbagai dinamika. Namun, ia optimistis kepemimpinan baru dapat membawa organisasi lebih adaptif menghadapi tantangan zaman.
“Dengan generasi muda, saya yakin organisasi ini bisa lebih progresif dan berdaya saing,” katanya.
Peran Aparat dan Pemerintah Daerah
Kapolres Majalengka AKBP Rita Suwadi, melalui Kasat Intelkam IPTU Asep Hendra Mulyana, menekankan pentingnya komunikasi yang intens antara serikat buruh dan aparat keamanan, khususnya dalam isu sensitif seperti penetapan UMK.
Ia menilai pengawalan penetapan UMK di Majalengka tahun ini berjalan kondusif berkat dialog yang dilakukan sebelum kebijakan diterapkan.
“Koordinasi lebih awal dengan dinas terkait dan APINDO penting agar tidak menimbulkan ketegangan di lapangan,” ujarnya.
Muscab F SP TSK R-KSPSI Majalengka menegaskan bahwa tantangan buruh ke depan tidak lagi semata soal upah normatif, tetapi juga menyangkut transformasi industri dan kesiapan sumber daya manusia. Regenerasi kepemimpinan menjadi langkah awal, namun keberhasilan sejatinya akan diuji oleh kemampuan organisasi menjawab perubahan struktural dunia kerja.