Konflik Thailand-Kamboja Merembet ke Sepak Bola: Klub-Klub Putus Kontrak Apparel Thailand

Konflik Thailand-Kamboja Merembet ke Sepak Bola: Klub-Klub Putus Kontrak Apparel Thailand

hailand Vs Kamboja Kian Memanas, Berdampak Ke Dunia Sepak Bola-Radar Cirebon-merahputih.com

Ketegangan Geopolitik Thailand-Kamboja Berdampak ke Sepak Bola: Klub Kamboja Putus Kontrak Apparel Thailand

RADARMAJALENGKA.COM-Konflik geopolitik yang kembali memanas antara Thailand dan Kamboja kini berdampak langsung ke dunia olahraga, khususnya sepak bola. Isu yang sebelumnya hanya menjadi persoalan perbatasan kini menjalar ke ranah industri kreatif dan olahraga profesional.

Dalam aksi yang mencuri perhatian, sejumlah klub Liga Primer Kamboja mengambil langkah tegas dengan memutus kerja sama bersama merek apparel asal Thailand. Tindakan ini menjadi simbol nyata bahwa konflik antarnegara tak lagi terbatas pada aspek diplomasi, melainkan turut mengganggu sinergi ekonomi lintas sektor.

BACA JUGA:Menteri Nusron Minta Kanwil BPN Lampung Percepat Pemetaan Lahan Reforma Agraria, Tinggalkan Pola Lama

Langkah ini dipelopori oleh NagaWorld FC, klub ternama di Liga Primer Kamboja, yang resmi menghentikan kontrak dengan FBT, brand perlengkapan olahraga dari Thailand. Sebagai solusi sementara, mereka memutuskan untuk kembali menggunakan seragam musim sebelumnya sambil mencari mitra apparel baru yang tidak terkait dengan Thailand.

Keputusan serupa kemudian diikuti oleh Phnom Penh Crown FC, juara bertahan liga, yang juga memutus kerja sama dengan Warrix, salah satu brand olahraga terkemuka Thailand. Kedua klub ini menegaskan bahwa langkah mereka adalah bentuk solidaritas nasional atas meningkatnya ketegangan di kawasan.

BACA JUGA:Peredaran Rokok Ilegal di Majalengka Parah: 10 Ribu Bungkus Disita, Satgas BKCHT Tak Kenal Ampun

Dampak dari konflik ini tak hanya berhenti di apparel. Klub-klub Kamboja juga sepakat untuk tidak lagi memilih Thailand sebagai lokasi pemusatan latihan pramusim. Hal ini menjadi pukulan telak bagi industri pariwisata dan olahraga Thailand yang selama ini diuntungkan dari aktivitas klub-klub Asia Tenggara.

Merespons keputusan tersebut, Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand, Sorawong Thienthong, menyampaikan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan pelarangan partisipasi delegasi olahraga Kamboja dalam SEA Games ke-33, yang dijadwalkan berlangsung di Thailand pada akhir tahun ini.

Jika kebijakan tersebut diterapkan, ketegangan diplomatik antara kedua negara diperkirakan akan semakin dalam. Lebih jauh lagi, hubungan dalam lingkup ASEAN berpotensi ikut terguncang.

BACA JUGA:Berawal Dari Proyek Mahasiswa, Kumora Cookies Melejit Jadi UMKM Sukses Berkat Rumah BUMN BRI Jakarta

Konflik ini menjadi bukti nyata bahwa politik dan olahraga saling terhubung. Dunia sepak bola, yang seharusnya menjadi simbol perdamaian dan persatuan, kini menjadi panggung baru bagi protes diplomatik. Pertanyaannya kini, apakah federasi olahraga regional atau ASEAN akan bertindak untuk meredakan situasi yang makin panas?

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait