Kalau itu terjadi, maka industrialisasi kita hanya akan menjadi pertumbuhan ekonomi tanpa transformasi sosial. Dan itu bukan cita-cita yang seharusnya kita bangun.
Pemuda Harus Menjadi Subjek, Bukan Objek. Karena itu, saya melihat pemuda harus ditempatkan sebagai subjek industrialisasi Majalengka.
Pemerintah tidak cukup hanya mendatangkan investor. Pemerintah juga harus memastikan adanya kebijakan yang memperkuat tenaga kerja lokal.
Industri tidak cukup hanya melakukan rekrutmen. Industri juga perlu membangun program training, pemagangan, upskilling, dan career development bagi pemuda lokal. Sekolah dan perguruan tinggi tidak cukup hanya mencetak lulusan. Mereka harus mengetahui kebutuhan dunia industri.
Dan KNPI bersama organisasi kepemudaan tidak boleh hanya menjadi penonton. KNPI harus menjadi jembatan. Jembatan antara pemerintah dan pemuda. Jembatan antara dunia pendidikan dan dunia industri. Jembatan antara perusahaan dan masyarakat. Dan jembatan antara pemuda pencari kerja dengan peluang ekonomi baru.
Saya Membayangkan Satu Gerakan: “Pemuda Siap Industri”
Majalengka membutuhkan sebuah ekosistem yang mempertemukan pemerintah, industri, sekolah, kampus, BLK, organisasi kepemudaan dan pemuda.
Bukan sekadar seminar. Tetapi sebuah gerakan nyata. Ada pemetaan kebutuhan tenaga kerja setiap kawasan industri. Ada pelatihan berdasarkan kebutuhan perusahaan. Ada job matching yang transparan. Ada talent pool pemuda Majalengka. Ada program magang. Ada sertifikasi. Ada pendampingan UMKM agar menjadi supplier industri.
Dan ada indikator yang jelas: berapa pemuda Majalengka yang masuk industri, berapa yang naik kelas, dan berapa yang berhasil menjadi pengusaha.
Dengan demikian kita tidak hanya menghitung: berapa banyak investasi yang masuk. Tetapi juga menghitung: berapa banyak masa depan pemuda yang berhasil kita bangun.
Majalengka Jangan Hanya Menjadi Lokasi Industri. Pada akhirnya, saya percaya industrialisasi adalah kesempatan besar bagi Majalengka. Kita tidak boleh takut terhadap perubahan. Kita justru harus mempersiapkan diri menyambutnya. Tetapi kita juga tidak boleh kehilangan sikap kritis. Karena tugas generasi muda bukan hanya bersorak ketika investasi datang.
Tugas kita adalah memastikan investasi tersebut memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Majalengka tidak boleh hanya menjadi lokasi industri. Majalengka harus menjadi rumah bagi tumbuhnya manusia-manusia industri yang unggul.
Pemudanya harus menjadi tenaga ahli. Pemudanya harus menjadi pengusaha. Pemudanya harus menjadi inovator. Pemudanya harus menjadi pemimpin. Dan pemudanya harus menjadi bagian dari pemilik masa depan Majalengka.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan industrialisasi bukan hanya seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi kita. Tetapi juga: seberapa banyak anak muda Majalengka yang kehidupannya berubah menjadi lebih baik karena industrialisasi.
Di titik itulah industrialisasi benar-benar memiliki makna. Bukan hanya pabrik yang tumbuh. Tetapi manusianya juga tumbuh. Dan jangan sampai suatu hari nanti kita melihat kawasan industri yang megah dari balik kaca kendaraan, lalu anak-anak muda Majalengka bertanya:
“Pabriknya memang tumbuh di tanah kami. Tetapi, apakah masa depan kami juga tumbuh di sana?”