Kita Tidak Anti-Investasi Pemuda Majalengka tidak boleh ditempatkan pada posisi seolah-olah harus memilih antara investasi atau kepentingan masyarakat.
Saya justru berpandangan sebaliknya: Kita membutuhkan investasi. Majalengka membutuhkan industri. Majalengka membutuhkan lapangan pekerjaan. Tetapi investasi harus memiliki hubungan yang kuat dengan pembangunan manusia lokal.
Kita ingin investor datang dan tumbuh. Tetapi pada saat yang sama, kita juga ingin pemuda Majalengka tumbuh bersama mereka. Karena investasi yang paling penting bukan hanya investasi modal.
Investasi terbesar adalah investasi terhadap manusia Majalengka.
Kertajati Harus Menjadi Momentum. Kawasan Kertajati memiliki posisi strategis dalam masa depan industrialisasi Majalengka. Pemerintah daerah sendiri telah merencanakan pengembangan kawasan industri terpadu di Kertajati.
Dokumen perencanaan daerah menyebut kawasan industri Kertajati pada perencanaan awal sekitar 1.500 hektare, dengan rencana pengembangan lebih lanjut. Selain itu terdapat rencana kawasan industri di Palasah dan Sumberjaya sekitar 459,37 hektare.
BACA JUGA:Dena Muhammad Ramdhan Siapkan Konsolidasi Golkar Majalengka, Bidik 12 Kursi DPRD
Potensinya luar biasa. Pada 2024 saja, Pemkab Majalengka mencatat terdapat 21 perusahaan baru yang berinvestasi, terdiri dari 18 penanam modal asing dan 3 penanam modal dalam negeri, dengan potensi penyerapan 5.505 tenaga kerja Indonesia. Investasinya mencakup antara lain industri alas kaki, mainan, furnitur, kawasan industri dan sektor lainnya.
Artinya, peluangnya nyata. Tetapi peluang tidak otomatis menjadi kesejahteraan. Peluang harus dipersiapkan.
Masalah Kita Bukan Hanya Kurangnya Lapangan Kerja Selama ini diskusi industrialisasi sering berhenti pada satu kalimat: “Industri akan membuka lapangan pekerjaan.” Benar.
Tetapi kita harus bertanya lebih dalam. Apakah kurikulum sekolah kita sudah sesuai kebutuhan industri? Apakah lulusan SMK kita memiliki kompetensi yang dibutuhkan? Apakah BLK kita benar-benar terhubung dengan kebutuhan perusahaan? Apakah perguruan tinggi di Majalengka sudah membangun link and match yang kuat dengan kawasan industri? Apakah anak muda desa di sekitar kawasan industri mendapatkan informasi dan akses rekrutmen yang sama?
Dan yang tidak kalah penting: Apakah UMKM Majalengka sudah dipersiapkan untuk menjadi bagian dari rantai pasok industri?
Sebab industrialisasi yang sehat tidak hanya menciptakan buruh. Ia harus melahirkan teknisi, engineer, supervisor, entrepreneur, vendor, supplier, UMKM, dan generasi profesional baru.
Jangan Sampai Terjadi “Industrialisasi Tanpa Mobilitas Sosial” Inilah yang menurut saya harus menjadi perhatian bersama. Jangan sampai industri tumbuh pesat, tetapi struktur sosial ekonomi masyarakat lokal tidak banyak berubah.
Pabrik bertambah, tetapi pemuda tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan layak. Investasi triliunan masuk, tetapi UMKM lokal tidak masuk rantai pasok. Kawasan industri berkembang, tetapi anak muda Majalengka tidak memiliki kompetensi yang cukup untuk mengambil posisi strategis.