Industrialisasi Majalengka dan Kegelisahan Pemuda
Muhammad Habibie, M.Hum-Dok-Istimewa
Oleh: Muhammad Habibie, M.Hum. (Sekretaris DPD KNPI Majalengka)
Majalengka sedang berubah. Kabupaten yang selama puluhan tahun dikenal sebagai daerah agraris kini perlahan bergerak menuju wajah baru: kawasan industri, investasi, infrastruktur, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, akses jalan tol, dan konektivitas kawasan Rebana.
Perubahan ini tentu patut disambut. Data BPS menunjukkan ekonomi Kabupaten Majalengka tumbuh 6,86 persen pada 2025, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat sebesar 5,32 persen.
Bahkan, industri pengolahan menjadi sektor yang memberikan kontribusi pertumbuhan terbesar, dengan kontribusi pertumbuhan sebesar 2,43 persen.
BACA JUGA:Bupati Eman Suherman Diangkat Jadi Dewan Kehormatan Makom Albab Majalengka
Lebih menarik lagi, kontribusi industri pengolahan terhadap PDRB Majalengka terus meningkat. Dari 23,78 persen pada 2021 menjadi 26,98 persen pada 2025. Pada tahun yang sama, sektor industri pengolahan tumbuh 9,15 persen.
Angka-angka itu menunjukkan satu hal: industrialisasi bukan lagi wacana masa depan. Ia sedang terjadi di depan mata kita.
Tetapi justru di sinilah kegelisahan pemuda bermula. Ketika Pabrik Tumbuh, Apakah Pemuda Ikut Tumbuh? Pertanyaan ini sederhana, tetapi sangat penting.
Pada Agustus 2025, jumlah angkatan kerja Majalengka mencapai 777.708 orang dan penduduk yang bekerja mencapai 749.551 orang. TPT turun menjadi 3,62 persen dari 4,01 persen pada tahun sebelumnya. BPS juga mencatat bahwa sektor industri menjadi sektor yang mengalami peningkatan penyerapan tenaga kerja.
Ini kabar baik. Namun bagi saya, keberhasilan industrialisasi tidak boleh berhenti pada pertanyaan: “Berapa banyak perusahaan yang masuk?"
BACA JUGA:Karang Taruna Majalengka Bantah Terlibat Pungli Rekrutmen Pabrik, Sebut Nama Organisasi Dicatut
Kita harus naik kelas bertanya: “Berapa banyak anak muda Majalengka yang menjadi bagian dari perusahaan tersebut?”
Lebih jauh lagi: “Berapa banyak yang menjadi tenaga ahli?” “Berapa banyak yang naik menjadi supervisor, manajer, engineer, teknisi, pengusaha, pemasok, dan pemilik usaha?”
Karena kalau industrialisasi hanya menghasilkan ribuan lowongan pekerjaan dengan posisi paling bawah, sementara posisi strategis diisi oleh tenaga kerja dari luar daerah, maka kita perlu melakukan evaluasi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
