Kertajati Majalengka Jadi Daerah Terpanas di Indonesia, Suhu Capai 37,6 Derajat Celsius

Kertajati Majalengka Jadi Daerah Terpanas di Indonesia, Suhu Capai 37,6 Derajat Celsius

Majalengka menjadi suhu tertinggi se-Indonesia mengakibatkan kekeringan dibeberapa desa.-www.detik.com-radarmajalengka.com

RADARMAJALENGKA.COM– Wilayah Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mencatatkan diri sebagai daerah dengan suhu udara tertinggi di Indonesia pada periode 14–15 Oktober 2025. 

Berdasarkan laporan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu maksimum di Kertajati mencapai 37,6 derajat Celsius. 

Angka tersebut menempatkan Kertajati sebagai wilayah terpanas di Tanah Air dalam dua hari berturut-turut.

Catatan ini termuat dalam laporan “Suhu Maksimum Harian Indonesia” yang dirilis BMKG pada Selasa (15/10/2025) pukul 01.24 WIB. Dalam data tersebut, Kertajati berada di urutan pertama dari seluruh stasiun pengamatan cuaca nasional yang mencatat suhu ekstrem pada pertengahan Oktober ini.

BACA JUGA:BAZNAS dan Pemkab Majalengka Dukung Siswa Berprestasi Nasional Lewat Program “Majalengka Cerdas”

Fenomena panas di Kertajati bahkan melampaui suhu udara di sejumlah daerah sekitar, seperti Cirebon yang mencatat suhu maksimum 37,2 derajat Celsius. 

Kondisi serupa juga terjadi di beberapa wilayah lain di Indonesia, antara lain Tanah Merah, Papua (37,2°C), Perak I Surabaya (37,2°C), Bima, Nusa Tenggara Barat (37,1°C), dan Semarang, Jawa Tengah (36,9°C).

Kertajati menjadi satu-satunya wilayah di Jawa Barat yang mencatat suhu di atas 37,5 derajat, menunjukkan intensitas panas yang lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Pulau Jawa.

Menurut pengamatan BMKG, suhu tinggi meluas di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di Pulau Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara. 

Kondisi ini menandai fase puncak panas menjelang peralihan musim atau pancaroba.

BACA JUGA:Bupati Majalengka Sidak Galian Jalan Lingkar Baribis, Tegaskan Penghentian dan Usut Izin

BMKG menjelaskan bahwa suhu maksimum yang tinggi dipicu oleh minimnya tutupan awan serta intensitas radiasi matahari yang tinggi sepanjang siang hari. 

Pada periode pancaroba, langit cenderung cerah dan kering sehingga panas matahari terserap langsung oleh permukaan bumi tanpa banyak terhalang awan.

“Pada kondisi seperti ini, sinar matahari diterima secara penuh oleh permukaan bumi dan menyebabkan peningkatan suhu udara, terutama pada siang hingga sore hari,” demikian penjelasan resmi BMKG dalam siaran persnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait