MAJALENGKA, RADARMAJALENGKA.COM - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka menggandeng Universitas Teknologi Bandung (UTB) untuk mempercepat pelaksanaan program unggulan Satu Desa Satu Sarjana.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang turut difasilitasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Majalengka. Program ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat kurang mampu.
Bupati Majalengka Eman Suherman mengatakan, program tersebut menyasar masyarakat dari kelompok desil 1 hingga 4. Selain mendapat dukungan biaya pendidikan, peserta berpeluang mengikuti skema kuliah sambil bekerja di Jepang.
“Program ini menyasar masyarakat desil 1 hingga 4. Mereka tidak hanya mendapatkan bantuan biaya kuliah, tetapi juga memiliki peluang bekerja di Jepang sambil menempuh pendidikan,” ujar Eman.
BACA JUGA:Perjuangan KH Abbas Abdul Jamil Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional, Majalengka Beri Dukungan
Pada tahap awal, Pemkab Majalengka menargetkan 100 peserta dari keluarga kurang mampu mengikuti program tersebut pada 2026. Eman berharap program ini turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendongkrak rata-rata lama sekolah di Majalengka yang saat ini 7,81 tahun.
Ketua Kadin Majalengka, Rd Hendrian Suryanatanagara, mengatakan kerja sama Pemkab Majalengka dan UTB menjadi langkah konkret mewujudkan program Satu Desa Satu Sarjana.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya membuka akses pendidikan tinggi, tetapi juga memberikan peluang bagi generasi muda Majalengka untuk memperoleh pengalaman kerja di luar negeri.
Sementara itu, Rektor UTB Muhammad Naseer mengatakan peserta akan menjalani pembekalan selama enam bulan sebelum diberangkatkan ke Jepang. Materinya meliputi bahasa, budaya, dan keterampilan kerja.
BACA JUGA:Mahasiswa KKN-T Desa Panjalin Kidul Wujudkan Program Beres Sampah di Desa
“Selama masa pelatihan, peserta sudah dihitung menjalani perkuliahan. Setelah itu, dalam waktu sekitar dua bulan, mereka ditargetkan bisa berangkat ke Jepang untuk bekerja sambil melanjutkan studi,” kata Naseer.
Ia menyebut peserta yang bekerja di Jepang berpeluang memperoleh penghasilan rata-rata lebih dari Rp20 juta per bulan, ditambah bonus tahunan. (ono)