Perbankan Perketat Prudential Measures di Tengah Risiko Geopolitik Global ‎

Jumat 27-03-2026,19:47 WIB
Reporter : Leni Indarti Hasyim
Editor : Leni Indarti Hasyim

‎JAKARTA, RADARMAJALENGKA.COM — Industri perbankan nasional meningkatkan penguatan kerangka  manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian (prudential banking) di tengah meningkatnya  risiko global, dipicu eskalasi konflik Iran–Israel yang melibatkan Amerika Serikat dan  berpotensi menekan stabilitas harga komoditas strategis, khususnya minyak mentah.

Ketua Umum Perbanas yang juga Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk,  Hery Gunardi, menegaskan bahwa meskipun volatilitas eksternal meningkat, indikator  fundamental perbankan domestik masih berada pada level yang solid.

Hal ini tercermin dari  pertumbuhan kredit yang tetap terjaga, likuiditas yang memadai, serta permodalan yang  kuat.

“Kami melihat risiko global meningkat, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi  dan volatilitas pasar keuangan.

BACA JUGA:BRI Konsisten Dukung Program Perumahan Nasional, Salurkan KPR Subsidi Rp16,79 Triliun hingga Februari 2026

Dalam konteks ini, perbankan akan semakin memperkuat  prinsip kehati-hatian melalui penguatan manajemen risiko dan kualitas aset,” ujar Hery.

Perbanas mencatat sejumlah langkah mitigasi telah dan terus diperkuat oleh industri  perbankandi Tanah Air. Beberapa langkah tersebut di antaranya melalui stress test sektoral  dan penguatan early warning system untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas  ‎kredit.

Adapun stress test sektoral dilakukan pada sektor-sektor yang sensitif terhadap  kenaikan biaya energi seperti transportasi, logistik, dan manufaktur.

‎Selain itu, lanjut Hery, perbankan juga meningkatkan disiplin penyaluran kredit melalui  pendekatan risk-based pricing, menjaga kecukupan likuiditas melalui optimalisasi rasio  ‎liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NFSR), serta mengelola eksposur  ‎nilai tukar secara lebih konservatif melalui strategi lindung nilai dan pengendalian posisi  ‎devisa neto.

BACA JUGA:Berawal dari Baso Aci Rumahan, Tercabaikan Kembangkan Kuliner Tradisional Modern lewat Pemberdayaan BRI

“Langkah-langkah ini penting untuk memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal  ‎tanpa mengabaikan aspek stabilitas, khususnya di tengah ketidakpastian global yang masih  ‎tinggi,” tambahnya. ‎

Dengan bauran kebijakan tersebut, industri perbankan diharapkan tetap resilien dan  mampu menopang pertumbuhan ekonomi domestik, meskipun tekanan eksternal  ‎berpotensi meningkat dalam jangka pendek hingga menengah

 

 

 

Kategori :