Prediksi Harga Emas Tahun 2026: Tembus USD6.000 Per Troi Ons, Benarkah Bisa Capai Rp100 Juta?
Prediksi harga emas selama tahun 2026 bisa menembus angka US$6.000 Per Troi Ons.- -radarmajalengka.com
RADARMAJALENGKA.COM - Prediksi harga emas tahun 2026 kembali menjadi perbincangan hangat di pasar global saat ini.
Sorotan menguat setelah lembaga keuangan internasional BNP Paribas memproyeksikan harga emas berpotensi menembus US$6.000 per troi ons pada 2026.
Jika dikonversi dengan asumsi kurs Rp16.821 per dolar Amerika Serikat (AS), level tersebut setara sekitar Rp100,92 juta per troi ons.
Proyeksi ini langsung memicu diskusi luas di kalangan pelaku pasar karena nilainya hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata harga emas global dalam beberapa tahun terakhir.
BACA JUGA:Bupati Eman Suherman Bersama Kementerian PKP Survei Produksi Genteng Jatiwangi
Mengutip laporan Bloomberg, Direktur Strategi Komoditas BNP Paribas, David Wilson, menilai kenaikan menuju USD6.000 per troi ons cukup masuk akal dalam konteks makroekonomi saat ini.
Menurutnya, kombinasi inflasi yang masih tinggi, meningkatnya risiko geopolitik, serta permintaan kuat dari bank sentral menjadi fondasi utama proyeksi tersebut.
Sejak awal tahun, harga emas memang menunjukkan reli tajam. Pergerakan ini diwarnai volatilitas akibat perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS dan ketidakpastian global.
Dalam beberapa pekan terakhir, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh dinamika suku bunga dan pelemahan dolar AS.
Berdasarkan laporan Reuters pada Senin (9/2), harga emas di pasar spot tercatat menguat 1,4 persen ke level USD5.029,09 per troi ons pada pukul 08.37 WIB.
Kenaikan ini terjadi setelah harga melonjak hampir 4 persen pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April naik 1,4 persen menjadi USD5.051 per troi ons.
Penguatan harga emas tersebut terjadi seiring pelemahan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, yakni Federal Reserve.
Pelaku pasar menanti rilis laporan tenaga kerja AS sebagai indikator penting yang akan memengaruhi keputusan suku bunga ke depan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
