Rupiah Melemah! Tembus Rp17.000 per Dolar AS dan ISHG Kena Dampak Besar? Simak Penjelasan Berikut Ini!

Senin 09-03-2026,18:07 WIB
Reporter : Miftah Nurohim
Editor : Miftah Nurohim

RADARMAJALENGKA.COM - Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan pasar keuangan setelah rupiah tembus Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin (9/3/2026).

Level tersebut dianggap sebagai batas psikologis penting karena terakhir kali rupiah berada di kisaran tersebut terjadi pada masa tekanan ekonomi besar sebelumnya.

Berdasarkan data perdagangan pasar valuta asing, rupiah sempat diperdagangkan di sekitar Rp17.015 per dolar AS pada pagi hari.

Angka ini melemah sekitar 90 poin atau 0,53 persen dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya di level Rp16.925 per dolar AS.

BACA JUGA:Daftar Lengkap Pemain Garuda Calling FIFA Series 2026: Elkan Baggott Comeback, Thom Haye Harus Absen!

Meski demikian, hingga sekitar pukul 12.00 WIB pergerakan rupiah mulai membaik. Mata uang Garuda tercatat berada di kisaran Rp16.984 per dolar AS, atau melemah sekitar 59 poin dari posisi penutupan sebelumnya.

Tekanan Global Picu Pelemahan Rupiah

Sejumlah analis menilai pelemahan rupiah kali ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik.

Salah satu sentimen utama berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia.

Harga minyak mentah global bahkan dilaporkan melonjak hingga menembus lebih dari 100 dolar AS per barel, sehingga memicu kekhawatiran inflasi global dan mendorong investor mencari aset aman seperti dolar AS.

BACA JUGA:Baznas Majalengka Salurkan Zakat Mal dan Program SIGAP Kepada 300 Sekolah

Dalam situasi seperti ini, pasar biasanya memasuki fase risk-off, yakni kondisi ketika investor cenderung menarik dana dari negara berkembang dan memindahkannya ke aset yang dianggap lebih stabil.

Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan. Selain faktor global, pasar juga mencermati dinamika ekonomi domestik.

Beberapa lembaga pemeringkat internasional sebelumnya menyoroti potensi risiko fiskal Indonesia yang dapat memengaruhi sentimen investor terhadap pasar keuangan nasional.

IHSG Turut Tertekan

Kategori :