“Jika rata-rata satu rumah membutuhkan ribuan genteng, potensi serapan pasar dari sektor perumahan ini menjadi peluang yang sangat besar bagi pelaku industri kecil dan menengah di Majalengka,” ujarnya.
Meski demikian, Suryanatanagara mengakui bahwa industri genteng di Majalengka masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. Salah satunya adalah berkurangnya jumlah tenaga kerja di sektor tersebut serta minimnya regenerasi perajin muda.
BACA JUGA:Percaya atau Tidak, 7 Tanaman Hias Indoor Ini Disebut Pembawa Hoki, Rezeki dan Kekayaan Bagi Pemilik
Ia menyebutkan, banyak tenaga kerja yang sebelumnya bekerja di industri genteng beralih ke sektor manufaktur modern yang dinilai menawarkan penghasilan lebih stabil.
Sebagai langkah antisipasi, Kadin Majalengka mendorong para pengembang yang berinvestasi di wilayah tersebut untuk mengalokasikan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) guna mendukung modernisasi peralatan produksi bagi para perajin genteng.
Salah satu opsi yang diusulkan adalah pengadaan mesin cetak genteng berbasis dinamo otomatis yang dapat meningkatkan efisiensi serta produktivitas produksi.
“Modernisasi sangat penting agar industri genteng tidak tertinggal. Kalau produktivitas meningkat dan pasar sudah jelas, generasi muda akan melihat bahwa industri ini masih memiliki prospek yang menjanjikan,” kata Suryanatanagara.
Melalui kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah daerah, dan sektor pengembang perumahan, Kadin Majalengka optimistis industri genteng lokal dapat terus bertahan dan berkembang. Selain menjaga warisan industri tradisional, langkah ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat.