Teguran dari penonton lokal kemudian memicu perdebatan sengit di dunia maya.
Situasi berkembang ketika sejumlah komentar yang beredar dinilai sebagian warganet bernada merendahkan budaya dan identitas masyarakat Asia Tenggara.
Respons pun bermunculan dari berbagai negara di kawasan yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN).
Tagar #SEAblings kemudian digunakan sebagai bentuk solidaritas digital.
Hingga kini, belum terdapat pernyataan resmi dari pihak penyelenggara acara maupun pihak yang disebut dalam perdebatan tersebut terkait eskalasi diskusi di media sosial.
Mengapa Istilah Ini Cepat Viral?
1. Solidaritas Regional
Fenomena ini dinilai menarik karena memperlihatkan dukungan lintas negara di Asia Tenggara. Padahal, dalam berbagai isu lain, perdebatan antarwarganet kawasan ini juga kerap terjadi.
2. Sensitivitas Isu Identitas Budaya
Topik yang menyentuh stereotip dan identitas budaya cenderung memicu respons emosional. Hal ini membuat diskusi berkembang lebih luas dan intens.
3. Algoritma Media Sosial
Sistem trending dan algoritma rekomendasi di platform seperti X dan Threads mempercepat penyebaran topik yang memiliki tingkat interaksi tinggi, sehingga istilah tersebut dengan cepat dikenal audiens yang lebih luas.
BACA JUGA:Motor Listrik Jarak Tempuh 100 km, Bisa Lari Jauh Bahkan Cocok untuk Mudik, Berikut 5 Pilihannya
Fenomena Seablings menunjukkan bagaimana identitas kolektif dapat terbentuk secara spontan di era digital.