H Aras meninggalkan seorang istri dan empat anak, sebagian masih bersekolah dan beranjak dewasa.
Pemakaman sudah dilaksanakan pada Senin pagi di tempat pemakaman keluarga.
“Selamat jalan, H Aras. Semoga amal kebaikanmu diterima di sisi Allah SWT. Kami semua kehilangan sosok pekerja keras dan penuh ketulusan,” ucap Pai lirih.
Bagi Jejep Falahul Alam, jurnalis senior sekaligus mantan Ketua PWI Majalengka, Aras bukan hanya rekan kerja, tetapi juga sahabat yang telah ia kenal selama lebih dari dua dekade.
BACA JUGA:Deretan Prompt Gemini AI untuk Foto Wanita Berhijab, Looks Natural Seolah Bukan dari Editan
“Terakhir saya bertemu beliau saat meliput program makan siang gratis di Cingambul. Meski dalam kondisi sakit, beliau tetap datang meliput. Dedikasi seperti itu sangat langka,” kenang Jejep.
Menurut Jejep, Aras telah aktif menulis sejak awal tahun 2000-an dan dikenal dekat dengan kalangan mahasiswa serta tokoh masyarakat.
Tulisan-tulisannya banyak menyoroti isu sosial, keagamaan, dan kemanusiaan dengan gaya bahasa yang santun dan mencerahkan.
“Beliau sering hadir di kegiatan mahasiswa, bahkan ketika kesehatannya menurun. Wartawan seperti beliau adalah contoh sejati: sederhana, tidak banyak bicara, tetapi pekerja keras,” ujarnya.
Hubungan antara keduanya pun terjalin hingga ke lingkup keluarga.
BACA JUGA:LUCU BANGET!! 4 Prompt Gemini Ai untuk Foto Sendiri atau Bareng Pasangan Lagi Liburan di Disneyland
“Istri saya dan istri almarhum adalah teman dekat. Karena itu, kehilangan ini terasa sangat pribadi bagi kami,” tambahnya.
Sementara itu, jurnalis muda Majalengka, Erik Bocil, mengaku masih sulit percaya atas kepergian sosok senior yang selama ini ia anggap sebagai guru dan panutan.
“Dua tahun terakhir, beliau sempat bercerita ingin membuka usaha madu. Semua sudah direncanakan dengan matang, tetapi Allah berkehendak lain,” ungkap Erik dengan mata berkaca.
Menurutnya, H Aras adalah figur yang jarang mengeluh. Meski kondisi fisiknya lemah, ia tetap aktif mengikuti kegiatan liputan dan sering hadir dengan motor tuanya.
BACA JUGA:Stop Cosplay Mahal-Mahal! Cukup Dengan Prompt Gemini AI Ini, Kamu Bisa Cosplay Tanpa Sewa Kostum
“Beliau wartawan sejati. Tidak banyak bicara tentang penderitaannya, tapi tetap menulis, tetap hadir. Semangatnya luar biasa,” tambahnya.
Kepergian H Aras Almuaras meninggalkan duka mendalam bagi insan pers Majalengka.
Di tengah keterbatasan fisiknya, ia menunjukkan bahwa semangat pengabdian pada profesi tidak ditentukan oleh usia atau kondisi tubuh, melainkan oleh ketulusan hati dan komitmen terhadap kebenaran.
Kini, pena dan catatannya mungkin telah berhenti menulis, tetapi jejak dedikasinya akan selalu menjadi inspirasi bagi generasi jurnalis berikutnya di Majalengka.
Selamat jalan, H Aras Almuaras. Terima kasih atas setiap kata dan keteladananmu. (bae)