Sunda Mataraman dan Kisah Perubahan Nama dari Galuh Menjadi Ciamis, Apa Kaitannya?

Sunda Mataraman dan Kisah Perubahan Nama dari Galuh Menjadi Ciamis, Apa Kaitannya?

Tanjakan jahim di perbatasan Ciamis dan Majalengka. Ada istilah Sunda Mataraman yang dikaitkan dengan perubahan nama Galuh menjadi Ciamis.-Syarif Thoyibi/Ist-radarmajalengka.com

RADARMAJALENGKA.COM - Sunda Mataraman? Istilah ini memang masih terasa asing. Tapi konon, istilah ini ada kaitannya dengan perubahan nama Galuh Menjadi Ciamis.

Semua tahu, kerajaan Galuh pernah lama dikuasai oleh Mataram. Masuk akal memang jika budaya Mataram tersebut berpengaruh tehadap masyarakat di wilayah yang sekarang masuk Kabupaten Ciamis ini.

Bahkan banyak yang menyebut jika perubahan Galuh menjadi Ciamis itu erat kaitannya dengan Kerajaan Mataram. Hanya sumber sejarah soal fakta ini memang sangat sedikit.

Namun, sejumlah penggiat sejarah yakin jika perbuahan nama Galuh Menjadi Ciamis itu terkait dengan Kerajaan Mataram.

BACA JUGA:Bupati Karna Resmikan Rumah Relokasi Bencana

Ada tayangan menarik di kanal YouTube. Tayangan itu menyebut jika perubahan nama Galuh menjadi Ciamis itu, memang permintaan Mataram. Setidaknya, kerajaan yang berpusat di Jogjakarta itu, mempunyai andil besar.

Seperti dalam tayangan Asal Usul Channel. Tayangan itu berjudul; “Asal-usul Kota Ciamis Jawa Barat”.

Dalam tayangan tersebut jelas disebutkan jika dominasi kerajaan Mataram semakin kuat untuk mengganti nama Galuh jadi Ciamis. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1915-1935.

Padahal sudah banyak yang tahu dan ada sejumlah literasi yang menyebutkan jatuhnya Kerajaan Galuh ke Mataram terjadi sudah lama. Jatuhnya kerajaan di Priangan Timur itu sudah terjadi pada tahun 1595.

BACA JUGA:SMAN 1 Maja Jawara Bola Voli, Raih Juara Pertama Putri Tingkat SMA/ SMK

Di bawah kekuasaan Mataram, daerah-daerah di Priangan yang semula berstatus kerajaan berubah menjadi kabupaten. Galuh berada di bawah kekuasaan Mataram antara tahun 1595-1705. 

Data tersebut juga diperkuat oleh tulisan A Sobana Harjasaputra. Dia adalah putera Galuh, sejarawan dan pustakawan pada Fakultas Sastra Universitas Padjajajaran (Unpad).

A Sobana mengungkapkan tentang kejatuhan Galuh dalam tulisannya yang berjudul: “Sejarah Galuh, Abad ke-8 s.d Pertengahan Abad ke-20 (1942).

Dalam tulisannya dijelaskan, Galuh pertama kali jatuh, ketika Mataram diperintah oleh Sutawijaya alias Panembahan Senopati (1586-1601). Oleh penguasa Mataram, Galuh dimasukkan ke dalam wilayah administratif Cirebon.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: