Air Mata Soekarno, Titik Awal Malapetaka Rakyat Aceh

Air Mata Soekarno, Titik Awal Malapetaka Rakyat Aceh

Soekarno -(Sumber: Commons Wikimedia)-radarmajalengka.com

RADARMAJALENGKA.COM - Ada unggahan menarik dari akun bernama Pencinta Sejarah Tanah Air (Pejantan). Dalam cuitannya di media sosial, akun tersebut membahas sejarah panjang perjuangan rakyat dan ulama Aceh.

Unggahan itu menguraikan potongan-potongan perjuangan Rakyat Aceh. Perjuangan dari sebelum dan zaman Belanda berkuasa, zaman Jepang hingga masa setelah Indonesia merdeka.

Bahkan cuitan tersebut juga menceriterakan soal kekecewaan Rakyat Aceh terhadap Presiden Seokarno. Kekecewaan Rakyat Aceh itu oleh akun Pejantan diambil sebagai judul. 

“Air Mata Seokarno, Titik Awal Malapetaka Rakyat Aceh”. Begitulah judul cuitan itu. Seolah  mewakili sikap Rakyat Aceh tehadap sikap Sang Proklamator, Bung Karno.

BACA JUGA:Administrasi Kependudukan Semakin Baik, Bupati Majalengka Dapat Penghargaan dari Gubernur

Memang sejarah mencatat, bahwa Aceh merupakan bangsa besar dan diakui kedaulatannya oleh negara lain. Ketika Jawa, Sumatera Utara, Borneo hingga Papua menjadi bagian dari Hindia Belanda, Aceh masih berdaulat penuh.

Kedigjayaan Kesultanan Aceh mampu eksis saat itu dikarenakan ketaatan Bangsa Aceh dalam penerapan Syari'at Islam di wilayahnya.

Tak heran jika Bangsa Aceh menjadi lebih unggul dalam ilmu pengetahuan dibandingkan penghuni wilayah Hindia Belanda.

Ketika rakyat Jawa masih berperang menggunakan pedang dan panah, Prajurit Kesultanan Aceh sudah dilengkapi dengan senapan dan meriam.

BACA JUGA:ICMI Ikuti Soroti Masalah Stunting di Auditorium Universitas Majalengka

Itu adalah bukti keunggulan Bangsa Aceh dalam hal ilmu pengetahuan, dibandingkan wilayah koloni Hindia Belanda.

Meriam ini bukti sejarah tentang besarnya kekuatan pasukan Kesultanan Aceh saat itu. Yang perlu diketahui bahwa meriam ini adalah  pemberian dari Kekhalifahan Turki Utsmani.

Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Belanda mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen.

Pasukan Kesultanan Aceh menyambut serangan tersebut menggunakan meriam pantai dari Khalifah Ottoman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: