Google Maps Minggir, Satelit BRIN Berbobot 1.000 Kilogram Bakalan Melintas di Langit Nusantara

Google Maps Minggir, Satelit BRIN Berbobot 1.000 Kilogram Bakalan Melintas di Langit Nusantara

Ilustrasi: dok. brin.go.id--

RADARMAJALENGKA.COM-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berencana untuk mengembangkan satelit dengan kemampuan pemetaan yang jauh lebih detail dari Google Maps. Rancangan ini diungkap oleh Kepala organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, satelit rancangan BRIN akan dilengkapi lensa yang lebih besar, sehingga dapat memetakan wilayah Indonesia hingga ke gang-gang yang sempit. Bahkan, Robertus menyebut, kemampuan satelit BRIN nantinya bisa menyaingi Google Maps untuk navigasi.

Ia menjelaskan, masyarakat terutama para pengemudi transportasi online masih menggunakan aplikasi navigasi online buatan Google tersebut untuk antar jemput penumpang. Ke depannya, mereka bisa menggunakan layanan navigasi online buatan negeri sendiri.

BACA JUGA:Suara Misterius di Bumi Sumenep, Asalnya dari Bawah Tanah?

“Karena satelit yang petanya dipakai sama abang Grab dan Gojek itu membutuhkan lensa yang lebih besar. Itu ke depan akan kita lakukan, supaya nanti peta Indonesia kita bisa bikin sendiri, kita tidak harus beli dari luar," katanya, di kantor BRIN, Jakarta.

Dengan ukuran lensa besar yang menghasilkan peta beresolusi tinggi, tentu ukuran satelit juga harus lebih besar. Oleh karenanya, BRIN berencana membuat satelit dengan bobot mencapai 1 ton alias 1.000 kilogram.

“Yang lagi kita ajukan untuk ekspansinya kalau saat ini kita bikin satelit 150 kilogram, kita mau bikin satelit yang lebih besar mencapai 1.000 kilogram," ujarnya (7/8).

BACA JUGA:Sudah Hampir 4 Minggu Jokowi Batuk, Begini Penjelasan Sandiaga Uno

Menurut Robertus satelit itu nantinya tidak hanya untuk pemetaan wilayah Indonesia, tapi juga bisa memberikan layanan deteksi kendaraan. Ini bisa dijadikan peluang kerja sama dengan pihak yang membutuhkan, sehingga satelit tersebut tidak hanya sebagai alat riset.

Selain itu, satelit tersebut juga bisa dimanfaatkan sebagai laporan deteksi penanggulangan kebencanaan di Indonesia. Kendati demikian, satelit ini kata Robertus masih dalam tahap perencanaan meski desainnya sudah ada.

"Begitu funding-nya approve, kita mulai. Desainnya sudah ada, tetapi kan skema yang kita inginkan itu kita mau supaya ada ekosistem juga tumbuh," pungkas Robertus. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: