Yamaha_detail

Si Windu Kuda Kuningan, Kuda Perang Pemberian Sunan Gunung Jati

Si Windu Kuda Kuningan, Kuda Perang Pemberian Sunan Gunung Jati

Si Windu Kuda Kuningan yang kini menjadi lambang Kabupaten Kuningan. -Ist-Radarkuningan.com

CIREBON - Si Windu Kuda Kuningan, tak sekadar menjadi tunggangan Panglima Ewangga. Banyak kisah di balik itu.

Si Windu Kuda Kuningan merupakan kuda perang yang diberikan Sunan Gunung Jati kepada Panglima Ewangga.

Kuda putih ini, dapat berlari sangat kencang. Mengalahkan kuda biasa. Si Windu Kuda Kuningan, menjadi tunggangan andalan Panglima Ewangga.

Kuda perang ini merupakan pemberian Sunan Gunung Jati, hadiah bagi Pangeran Ewangga karena kepiawaiannya dalam strategi pertempuran. 

BACA JUGA:Ahnaf Arrafif di Jambi, Menyamar Jadi Pria untuk Menikahi Wanita

Kuda ini, juga sering dipakai Pangeran Ewangga untuk bolak-balik Cirebon ke Kuningan. Perjalanan itu, bahkan ditempuh dalam waktu singkat saja.

Bahkan kabarnya, logo Kabupaten Kuningan mengadaptasi Si Windu yang merupakan kuda perang tersebut.

Dikutip dari Buku Situs di Kabupaten Cirebon, Ewangga bersama pasukannya berperang melawan pasukan Raja Galuh yang dipimpin Pangeran Aria Kiban.

Perang tanding yang tidak menemui siapa pemenang dan mana yang kalah tersebut, akhirnya bubar dengan sendirinya.

BACA JUGA:Presiden Jokowi Apresiasi Capaian Program Kartu Prakerja

Si Windu yang menjadi tunggangan Ewangga waktu perang tersebut, ditinggalkan dan diselamatkan oleh Adipati Kincir dengan para ponggawanya dibawa pulang ke Kuningan.

Dalam keadaan terluka karena habis perang, Adipati Kincir di tengah perjalanan berhenti di pedukuhan Sindangkasih.

Perang tanding yang tidak menemui siapa pemenang dan mana yang kalah tersebut, akhirnya bubar dengan sendirinya.

Si Windu yang menjadi tunggangan Ewangga waktu perang tersebut, ditinggalkan dan diselamatkan oleh Adipati Kincir dengan para ponggawanya dibawa pulang ke Kuningan.

BACA JUGA:Menantikan Keseruan Idemitsu bLU cRU Yamaha Sunday Race, Ajang Balapan Dan Riding Experience Pecinta bLU cRU

Dalam keadaan terluka karena habis perang, Adipati Kincir di tengah perjalanan berhenti di pedukuhan Sindangkasih.

Adipati Kincir menetap di pedukuhan tersebut sampai ajalnya tiba dan dimakamkan di Sindangkasih.

Hingga sekarang, makamnya dilestarikan menjadi situs Buyut Adipati Kincir di Desa Sindangkasih, Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon.

Selain situs Buyut Adipati Kincir, terdapat satu situs lagi yang dinamai Parnawindu atau Bernawendu, ada juga yang menyebutnya Makam Kuda Si Windu. 

BACA JUGA:Syekh Siti Jenar Keturunan Nabi Muhammad, Disebut Berasal dari Cacing

Makam yang terletak di pertigaan jalan desa tersebut, lokasinya memang bukan di pemakaman pada umumnya.

“Dari cerita turun temurun, masyarakat menyebutnya Parnawindu atau makam kuda,” ujar Agus Sugiarto, Kepala Desa Sindangkasih.

Kuburan yang hanya ditandai dengan dua buah batu nisan tersebut, terkesan tidak ada upaya untuk dikembangkan menjadi sebuah situs wisata.

“Sudah ada rencana dikembangkan menjadi sebuah situs lerigi, tetapi kami masih harus membicarakan dengan para tokoh ulama,” ujar Agus.

BACA JUGA:Syekh Siti Jenar Keturunan Nabi Muhammad, Disebut Berasal dari Cacing

Menurut Agus, mengembangkan sebuah situs di desanya menjadi sebuah situs wisata, masih menjadi polemik, khawatir menjadi salah persepsi.

Selain makam kuda Si Windu, di lokasi yang sama terkubur peralatan perang milik ponggawa Adipati Kincir.

Hal tersebut ditegaskan oleh aktivis sejarah Hedy Herdyanto. Menurutnya, Adipati Kincir dan kuda Si Windu bersama peralatan perangnya, dimakamkan di Desa Sindangkasih.

Di samping makam kuda, terdapat aliran sungai yang konon menurut cerita sangat berkhasiat bagi kuda.

BACA JUGA:Hasil Pertandingan Persib vs Persebaya Tuntas 3-1, Maung Bandung ke Puncak

“Dahulu di lokasi tersebut menjadi pemandian kuda-kuda,” ujar Hedy.

Menurut pria yang gemar menelusuri sejarah ini, bahwa kuda-kuda yang mengalami sakit atau kelelahan, akan kembali bertenaga usai dimandikan di lokasi tersebut.

Selain kedua situs di atas, Desa Sindangkasih memiliki situs lain yang menunggu untuk dikembangkan menjadi situs wisata.

Diantaranya, Situs Buyut Maruyung, Jagaranti, Padaleman dan Air Wasiat peninggalan Nyi Rambut Kasih. (brd/yud)

Sumber: