Apa Itu Siklon Jangmi? Ini Dampaknya ke Cuaca Indonesia dan Wilayah yang Perlu Waspada

Apa Itu Siklon Jangmi? Ini Dampaknya ke Cuaca Indonesia dan Wilayah yang Perlu Waspada

Penjelasan tentang siklon tropis Jangmi yang muncul dari laut Filipina- -radarmajalengka.com

RADARMAJALENGKA.COM - Memasuki awal Juni 2026, sejumlah wilayah di Indonesia masih diguyur hujan meski sebagian daerah telah memasuki musim kemarau.

Kondisi ini membuat banyak masyarakat bertanya-tanya mengenai penyebab cuaca yang masih cukup basah, terutama di kawasan Indonesia bagian utara.

Salah satu fenomena yang menjadi perhatian adalah kemunculan Siklon Tropis Jangmi di sekitar Laut Filipina. Lalu, apa itu Siklon Jangmi dan bagaimana dampaknya terhadap cuaca di Indonesia?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa Siklon Tropis Jangmi merupakan sistem cuaca yang berkembang dari Bibit Siklon Tropis 99W di wilayah Laut Filipina, sebelah utara Papua.

BACA JUGA:Tanaman Hias Pembawa Rezeki yang Dipercaya Datangkan Hoki, Nomor 5 Banyak Dicari

Meskipun pusat siklon tidak berada di wilayah Indonesia, keberadaannya tetap memberikan dampak tidak langsung terhadap pola cuaca nasional.

Secara umum, siklon tropis adalah pusaran angin bertekanan rendah yang terbentuk di atas lautan hangat.

Sistem ini mampu memengaruhi arah angin, distribusi uap air, serta pembentukan awan hujan di wilayah yang berada di sekitar jalur pergerakannya.

Menurut BMKG, Siklon Jangmi berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas hujan di beberapa wilayah Indonesia bagian timur dan utara.

BACA JUGA:5 Tanaman Minimalis Hias yang Bikin Rumah Terlihat Lebih Mewah, Nomor 3 Favorit Kolektor

Dampak tersebut terjadi karena siklon memicu terbentuknya daerah konvergensi atau perlambatan kecepatan angin, serta daerah konfluensi atau pertemuan massa udara yang mendukung pertumbuhan awan hujan.

Selain pengaruh Siklon Jangmi, cuaca di Indonesia juga dipengaruhi sejumlah fenomena atmosfer lainnya seperti Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, serta Madden-Julian Oscillation (MJO).

Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat suplai udara basah ke Indonesia bagian utara masih cukup tinggi meskipun musim kemarau mulai berlangsung.

BMKG mencatat bahwa pada periode 25 hingga 27 Mei 2026, curah hujan tertinggi terjadi di Maluku dengan mencapai 91,5 mm per hari.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait