Hama Tikus Gerogoti Sawah di Ligung Majalengka, Hasil Panen Petani Turun hingga 40 Persen

Hama Tikus Gerogoti Sawah di Ligung Majalengka, Hasil Panen Petani Turun hingga 40 Persen

SEMPROT HAMA: Serangan hama tikus menjadi salah satu ancaman utama bagi produksi padi karena populasinya berkembang cepat dan mampu merusak tanaman dalam waktu singkat.-ist-radarmajalengka

MAJALENGKA, RADARMAJALENGKA.COM - Serangan hama tikus di sejumlah areal persawahan Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka, mulai berdampak serius terhadap produktivitas padi. Banyak petani mengaku hasil panen mereka turun drastis dibandingkan musim tanam sebelumnya.

Kondisi tersebut tidak hanya mengurangi pendapatan petani, tetapi juga semakin memberatkan penggarap yang menyewa lahan. Mereka berharap pemerintah bersama instansi terkait segera melakukan pengendalian hama secara terpadu agar kerusakan tanaman tidak semakin meluas.

Salah seorang petani, Farhan, mengatakan serangan tikus terjadi sejak tanaman memasuki fase pertumbuhan hingga menjelang panen. Hama tersebut merusak batang dan bulir padi sehingga banyak tanaman mati atau gagal menghasilkan gabah secara optimal.

Menurut Farhan, hasil panennya turun sekitar 40 persen. Jika pada musim panen normal ia mampu memperoleh sekitar 10 kuintal gabah, pada panen awal 2026 hasilnya hanya sekitar 6 kuintal.

BACA JUGA:Ketua dan Bendahara KONI Majalengka Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Rp6 Miliar,Negara Rugi Hampir Rp2 Miliar

"Biasanya sekali panen saya bisa mendapatkan sekitar 10 kuintal padi. Namun pada panen awal tahun 2026 ini hasilnya hanya sekitar 6 kuintal. Banyak tanaman yang rusak akibat hama tikus," ujarnya.

Ia menjelaskan, serangan tikus terjadi hampir setiap malam sehingga petani harus bergantian menjaga sawah. Berbagai upaya telah dilakukan, seperti memasang jebakan dan melakukan pengasapan di sekitar pematang sawah, namun belum mampu menekan populasi tikus secara efektif.

Menurutnya, pengendalian hama tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri karena tikus mudah berpindah dari satu lahan ke lahan lainnya. Karena itu, diperlukan pengendalian secara serentak yang melibatkan seluruh petani dalam satu hamparan persawahan.

Keluhan serupa disampaikan Abdullah. Ia mengaku penurunan hasil panen semakin memberatkan karena lahan yang digarap merupakan lahan sewaan.

BACA JUGA:Kapolres Majalengka Serahkan Penghargaan Pemenang Turnamen Mobile Legends Kapolres Cup

Abdullah menjelaskan, sistem sewa lahan dilakukan dengan pembayaran menggunakan hasil panen. Setiap tahun ia harus menyerahkan tiga kuintal gabah kepada pemilik lahan sebagai biaya sewa.

"Panen kemarin saya hanya mendapatkan sekitar 4 kuintal. Dari jumlah itu, sebanyak 3 kuintal harus diserahkan kepada pemilik lahan sebagai biaya sewa. Jadi yang tersisa untuk saya hanya sekitar 1 kuintal," katanya.

Meski demikian, Abdullah berharap kondisi membaik pada musim panen berikutnya. Berdasarkan kesepakatan sewa, hasil panen kedua sepenuhnya menjadi hak penggarap sehingga diharapkan dapat menutup kerugian pada panen pertama.

"Kalau panen kedua nanti hasilnya menjadi milik saya seluruhnya. Mudah-mudahan serangan tikus sudah berkurang sehingga hasil panen lebih baik," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait