Permintaan Genteng dari Luar Daerah Meningkat, Produksi Jatiwangi Belum Maksimal

Permintaan Genteng dari Luar Daerah Meningkat, Produksi Jatiwangi Belum Maksimal

KEKURANGAN TENAGA KERJA: Meski permintaan dari berbagai daerah meningkat, sejumlah pabrik belum mampu memenuhi seluruh pesanan akibat kekurangan tenaga kerja.-ist-radarmajalengka

MAJALENGKA, RADARMAJALENGKA.COM – Industri genteng di Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, kembali bergairah. Permintaan genteng dari berbagai daerah di Indonesia meningkat dalam beberapa bulan terakhir seiring meningkatnya kebutuhan material bangunan untuk sektor perumahan.

Namun, tingginya permintaan belum mampu diimbangi kapasitas produksi. Sejumlah pabrik genteng justru mengalami kekurangan tenaga kerja sehingga tidak dapat memenuhi seluruh pesanan.

Pemilik pabrik genteng, Iri Nasir, mengatakan pesanan datang dari berbagai daerah, mulai Kalimantan, Sulawesi hingga Sumatra.

"Permintaannya naik drastis. Hampir setiap hari ada pesanan masuk dari berbagai daerah, tetapi tidak semuanya bisa kami penuhi," ujarnya, Minggu (5/7).

BACA JUGA:BPBD Majalengka Petakan 30 Desa di 14 Kecamatan Rawan Krisis Air Bersih Saat Musim Kemarau

Menurutnya, dari 20 mesin produksi yang dimiliki, hanya delapan unit yang beroperasi setiap hari karena keterbatasan tenaga kerja.

"Satu mesin membutuhkan sekitar 20 pekerja. Kalau seluruh mesin beroperasi, kami membutuhkan sekitar 400 orang. Saat ini tenaga kerja yang tersedia hanya cukup untuk mengoperasikan delapan mesin," katanya.

Setiap mesin mampu menghasilkan sekitar 2.000 keping genteng per hari. Namun setelah memperhitungkan tingkat kerusakan saat proses pembakaran dan pengeringan, produksi layak jual mencapai sekitar 1.600 keping per mesin atau sekitar 12.800 keping per hari dari delapan mesin yang beroperasi.

Jumlah tersebut, kata Iri, masih jauh di bawah permintaan pasar sehingga banyak pesanan terpaksa ditolak.
"Pasarnya sangat besar, tetapi kami tidak sanggup memenuhi seluruh permintaan karena kekurangan tenaga kerja," ujarnya.

BACA JUGA: Atta dan Aurel Bagikan Keseruan Shopee Belanja Instant 1 Jam Tiba, Warganet ‎Ikut Antusias

Ia menjelaskan, kendala utama bukan terletak pada ketersediaan bahan baku. Pasokan tanah liat untuk produksi masih mencukupi. Persoalan terbesar justru minimnya regenerasi tenaga kerja.

Sebagian besar pekerja di pabrik genteng saat ini berusia di atas 50 tahun, sedangkan minat generasi muda untuk bekerja di industri genteng terus menurun.

"Anak-anak muda sekarang lebih memilih bekerja di pabrik, sektor konstruksi, atau merantau ke kota. Padahal jam kerja di pabrik genteng relatif singkat," katanya.

Ia menjelaskan, aktivitas produksi dimulai pukul 06.30 WIB hingga sekitar pukul 13.00 WIB. Upah harian yang diberikan sebesar Rp75 ribu untuk pekerja laki-laki dan Rp50 ribu bagi pekerja perempuan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait