Petani Ogah Tanam Kedelai Hitam
MAJALENGKA - Para petani di Kabupaten Majalengka sepertinya ogah untuk menanam kedelai hitam. Padahal kebutuhan kedelai hitam untuk memenuhi kebutuhan produksi kecap sangat banyak.
Ketua Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Majalengka, Ir Kusnadi mengakui, para petani kurang tertarik untuk menanam kedelai hitam walaupun biaya produksi ringan. Karena, hasil produksi dan waktu menanam yang tidak seimbang.
“Pasar permintaannya kontinyu, sedangkan petani Majalengka tidak terus-terusan menanam kedelai dan paling menanam kedelai setahun sekali,” kata Kusnadi kepada Radar kemarin
Senada, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Majalengka, Ir Iman Firmansyah, MM menyebutkan, memang ada petani di Kabupaten Majalengka yang menanam kedelai hitam, tapi jumlahnya tidak banyak. Karena kalkulasinya kurang menguntungkan bagi para petani. “Terkait yang menerima hasil produksi kedelai juga tidak dilakukan dengan kerja sama,” ujar Iman kepada Radar kemarin.
Sementara itu, pengusaha kecap Majalengka mengharapkan agar pemerintah daerah bisa ikut membantu keberadaan industri kecap dengan mendorong petani untuk menanam kedelai hitam.
Direktur Produksi dan Pemasaran CV Maja Menjangan (MM) Hanupis, Ir H Nana Suherna Saad MP mengeluhkan harga kedelai hitam yang menjadi bahan baku pembuatan kecap melonjak tajam.
Disebutkan H Nana, harga kedelai hitam yang sebelumnya Rp8.500 perkilo kini mencapai Rp12.000 perkilo bahkan ada yang menjual hingga Rp17.500 perkilo.
Diakuinya, selama ini sesuai dengan tradisi orang tuanya untuk produksi kecap menggunakan kedelai hitam. Ia sendiri belum tahu alasan secara ilmiah untuk produksi kecap itu harus menggunakan kedelai hitam.
“Kata orang tua dulu acinya lebih kental kedelai hitam sehingga bagus untuk kecap. Hingga kini untuk produksi kecap belum pernah menggunakan kedelai putih. Tapi perlu juga ada penjelasan dari ahlinya tentang keunggulan kedelai hitam,” kata H Nana.
Selain kenaikan harga kedelai juga usaha kecap tradisional terpengaruh dengan kenaikan harga gula merah atau gula aren. Harga gula aren dari Garut atau Ciamis per kilo sekitar Rp17.000, sedangkan gula aren dari Ciandeu Desa Sidamukti Kecamatan Majalengka harganya sangat tinggi mencapai Rp40.000 perkilo.
“Kalau tahu atau tempe dengan kenaikan kedelai ukurannya bisa dikecilkan. Tapi kalau kecap ukuran kemasan sudah ditentukan isinya, sehingga adanya kenaikan harga bahan baku sangat berpengaruh kepada produksi kecap,” bebernya.
Menurutnya, untuk mendapatkan bahan baku kedelai hitam pengusaha kecap mendapatkannya dari Subang hingga Jawa Tengah.
Nana mendorong Dinas Pertanian dan Perindustrian untuk bisa koordinasi dan kerja sama membuat kebijakan atau terobosan guna menyelamatkan keberadaan pabrik kecap tradisional di Kabupaten Majalengka.
“Kami sangat menantikan peran dan terobosan dari Pemkab Majalengka untuk bisa menyelamatkan dan membantu keberadaan industri kecap tradisional,” harapnya. (ara)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
