Cerita Empat Siswa SMAN 1 Rajagaluh yang Bantu Tangkap Penculik

Cerita Empat Siswa SMAN 1 Rajagaluh yang Bantu Tangkap Penculik

Keempat siswa SMA Negeri I Rajagaluh diganjar reward oleh pihak sekolah karena peduli menggagalkan aksi kejahatan penculikan anak asal kabupaten Cirebon. Bagaimanakah kronologi itu berlangsung? ONO CAHYONO, Majalengka Keempat siswa SMA Negeri I Rajagaluh itu adalah Muhammad Fariz, Nandi Triana, Irgi Septiadi dan Shergy Elpades merupakan kelas X jurusan MIPA II. Atas tindakan penggagalan penculikan itu mereka mendapatkan apresiasi dari pihak sekolah berupa gratis tiga bulan SPP secara gratis dan uang \'jajan\' dari kepala sekolah masing-masing sebesar Rp500 ribu. Penyerahan reward itu dilakukan disela upacara Senin (10/2) dihadapan 1.067 seluruh siswa/siswi. Usai mendapatkan apresiasi itu, keempat siswa menceritakan kronologis penangkapan penculik itu. Saat itu, Nandi Triana bersama ketiga teman sekelasnya itu menunaikan salat duhur di masjid Nurul Amaliyah di depan sekolah sekitar pukul 13.30 WIB. Usai salat, mereka tengah memakai sepatu. Kebetulan ada seorang yang mengaku bernama Arina, pemuda asal Sumber, Cirebon. Arina melihat anak mirip korban penculikan yang tengah viral di jejaring sosial khususnya. \"Saat itu si penculik tengah beristirahat selonjoran di depan masjid. Sementara anak (korban) langsung ditarik pemuda bernama Arina. Di situlah terjadi perdebatan antara Arina dengan si penculik,\" terangnya. Irgi Septiadi menambahkan di sela memakai sepatu, mereka menyimak obrolan antara pemuda (Arina) bersama pelaku. Perdebatan terjadi saat Arina mendesak terkait latar belakang korban (anak, red). Apalagi saat Arina menyodorkan foto bahwa anak tersebut memang tengah dicari. \"Anak itu langsung dipegang Arina. Perdebatan itu memicu pelaku kabur. Kami melihat pelaku kabur dan spontan langsung mengejar ke arah utara atau di Blok Pajaten Desa Rajagaluh Lor, Kecamatan Rajagaluh,\" imbuhnya. Dia menuturkan mereka awalnya tidak percaya sepenuhnya anak tersebut adalah korban penculikan. Namun setelah Shergy Elpades memastikan dia melihat viralnya postingan tersebut mereka langsung mengejar pelaku. Pelaku lari namun sepeda motor ditinggalkan di depan masjid. Di TKP atau jaraknya sekitar 500 meter dari masjid pelaku menghilang. Satu di antara siswa berteriak penculik sambil mengejar. Sesampainya di TKP, penculik itu masuk ke sungai dan menyelam untuk mengelabuhi masyarakat yang sudah berkumpul. \"Kalau khawatir sih ada. Takut pelaku bawa senjata. Tapi kami terus ikuti arah larinya. Apalagi Sherki juga sempat lihat juga di Facebook bahwa itu anak yang hilang diculik. Beruntung dibantu masyarakat sekitar,\" imbuh Fariz. Pelaku ditangkap di sana oleh masyarakat dan salah satu siswa SMAN 1 Rajagaluh, Nandi langsung lapor ke pihak kepolisian. Petugas Polsek pun langsung tiba di TKP dan mengamankan pelaku dari amukan massa. Sementara itu, Kepala Sekolah Drs Enjen Jaenal Alim MPd didampingi Wakasek bidang Kesiswaan SMA Negeri I Rajagaluh, Supendi SPd MSi mengapresiasi  keempat siswanya yang berinisiatif menggagalkan upaya penculikan. Hal ini sangat menggembirakan dan menjadi bukti pendidikan karakter bisa terwujud dan terlaksana. \"Siswa itu harus dituntut punya karakter kepedulian dan perhatian. Apalagi ini dalam bentuk kepentingan keamanan lingkungan begitu ada kejadian kejanggalan kemarin,\" jelasnya. Apresiasi juga diberikan kepada anak-anak ikut membantu penangkapan sekaligus penggagalan penculikan anak asal kabupaten Cirebon. \"Awalnya sih hanya mengucapkan terimakasih dan memotivasi siswa lainnya. Namun ada kebijakan dari pak kepala sekolah melalui pemberian reward dari sekolah. Sehingga mereka berempat dapat dibebaskan SPP masing-masing 3 bulan ditambah uang jajan Rp500 ribu dari pak kepala sekolah,\" terangnya. Sementara itu, Wakasek Humas Drs Bobby Saptari menambahkan sebagai biro informasi dirinya menanyakan betul tidaknya ada penangkapan yang dimotori oleh siswanya. \"Ini merupakan karakter di dalam pendidikan. Ilmu pendidikan karakter ada tersurat di kurikulum, tersirat di dalam perilaku anak. Spontan anak berbuat seperti itu. Ada anak yang harus ditolong. Saat itu pun langsung memburu penculik meski menjadi pertanyaan masyarakat saat mengejar pelaku,\" imbuhnya. Reward yang diberikan, lanjut dia, merupakan bentuk kepedulian dari sekolah bagi anak terhadap penggagalan tindak kejahatan. (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: