Ada yang posting soal kekayaan budaya, makanan khas, keindahan alam, sampai prestasi atlet dari berbagai negara di kawasan ini.
Yang bikin fenomena ini cepat viral adalah cara menyampaikannya. Bukan cuma marah atau debat panas, tapi juga dibumbui humor.
Meme lintas bahasa, candaan khas masing-masing negara, sampai kolaborasi virtual di kolom komentar bikin suasananya terasa unik.
Netizen jadi seperti menemukan identitas bersama, sesuatu yang jarang terasa sebelumnya.
Sebagian orang mungkin melihat SEAblings cuma tren sesaat. Memang, dunia maya cepat sekali berubah. Hari ini viral, besok bisa sudah sepi.
Tapi di balik itu, ada hal yang cukup menarik: rasa kebersamaan digital. Di era sekarang, solidaritas nggak selalu harus lewat aksi di dunia nyata.
Lewat komentar, repost, dan tagar pun orang bisa merasa terhubung. Pada akhirnya, SEAblings bukan cuma soal perdebatan awalnya.
Ini tentang momen ketika orang-orang dari berbagai negara di Asia Tenggara merasa satu suara.
Mungkin besok sudah ada tren baru lagi. Tapi setidaknya, SEAblings jadi bukti bahwa netizen Asia Tenggara kalau sudah kompak, suaranya bisa sangat terdengar.
*Artikel ini ditulis oleh Siti Salwa Maharani mahasiswa komunikasi penyiaran islam UINSSC yang sedang magang/PPL.