Nah, inilah “jurus rahasia” kenapa Atto 1 bisa dibanderol semurah itu.
Pemerintah kasih fasilitas bea masuk 0% (harusnya 50%), PPnBM 0% (harusnya 15%), dan cuma bayar PPN 12%.
Itu semua berlaku buat mobil impor utuh alias CBU, dengan syarat BYD wajib pasang bank garansi dan janji bakal bikin pabrik perakitan lokal (commitment 1:1 production).
Kalau nggak memenuhi syarat itu tahun depan, siap-siap aja harga naik.
Untuk versi yang dirakit lokal alias CKD, insentifnya bahkan bisa lebih “ngeri” karena pajaknya cuma sekitar 2%!
Ini berkat kombinasi beberapa aturan seperti Permeninvest No. 6/2023 dan Permenperin 36/2021 yang juga bebaskan BBN-KB dan PKB.
Artinya, mobil listrik kayak BYD bukan cuma bebas ganjil genap di jalan raya, tapi juga bebas pajak kendaraan tahunan.
Lumayan banget buat yang benci antri di Samsat.
BACA JUGA:Mobil Listrik BYD Denza D9 Bisa Jadi Alternatif Mobil Keluarga MPV Mewah, Harganya Ngga Sampai 1M
Bakal Naik atau Turun Tahun Depan?
Meski sekarang masih bisa dibilang “murah”, masa depan harga Atto 1 akan sangat bergantung pada dua hal: apakah BYD mau merakit di Indonesia, dan apakah pemerintah perpanjang insentif BEV tahun depan.
Kalau BYD beneran bangun pabrik CKD dan masuk roadmap Low Carbon Emission Vehicle (LCEV), harga bisa stabil bahkan berpotensi turun.
Tapi kalau nggak, dan insentif impor BEV CBU habis di akhir 2025, siap-siap aja lihat label harga yang bikin melongo.
Jadi, buat kamu yang naksir Atto 1 karena desainnya futuristis dan harga ramah kantong, mungkin sekarang adalah timing paling pas buat beli.