Solidaritas Sosial
Selain kejujuran dan toleransi, masih ada beberapa spirit Ramadan yang bisa menjadi pendidikan karakter di sekolah-sekolah. Yakni berkaitan dengan “empati” dan “solidaritas sosial”.
Saat puasa, seseorang merasa lapar dan haus dan tentu saja stamina berkurang dan badan serasa lemah. Bukankah ini merupakan kondisi yang sering dirasakan orang yang miskin, sengsara, dan tertindas? Sudah sepantasnya, empati ini dilanjutkan dengan solidaritas sosial dan aksi nyata untuk membantu dan mengadvokasi masyarakat yang miskin, sengasara, dan tertindas itu.
Binar Optimisme
Sebenarnya, hikmah dan spirit Ramadan cukup banyak, namun tiga hal yang diuraikan di atas adalah bagian paling relevan untuk dieksplorasi kaitannya dengan kondisi pendidikan kita dan pembentukan karakter (character building).
Pembentukan karakter sudah saatnya menjadi prioritas dalam pendidikan kita, terutama di usia “emas” SD, SLTP, dan SLTA. Bukan hanya sesaat dan berlanggam “formalitas”, pembentukan karakter harus dilakukan secara sungguh-sungguh hingga benar-benar terinternalisasi dalam watak dan perilaku para murid.
Jika para anak bangsa berkarakter kuat, terutama dalam dua hal penting “kejujuran” dan “toleransi”, maka sangat mungkin ada binar optimisme bagi bangsa ini ke depan. Mengapa? Karena “korupsi” dan sikap “intoleran” yang destruktif masih terus berjangkit dan berkecambah di negeri ini.[*/opl]
Oleh: Nia Kania
Mahasiswi Doktoral Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)