MAJALENGKA - Dampak dari pandemi Covid-19 saat ini sangat berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah aspek perekonomian. Bahkan banyak pelaku usaha yang merumahkan beberapa karyawannya dan saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, mengharuskan masyarakat untuk tetap di rumah merupakan salah satu faktor banyaknya pelaku bisnis yang menurun pendapatannya.
Namun disisi lain terdapat usaha yang masih bisa bertahan di tengah wabah Covid-19 ini, salah satu adalah usaha bata merah. Seperti yang diungkapkan Didin Saenudin yang mengatakan bahwa di tengah pandemi, produksi batu bata, berjalan normal dan permintaan masih stabil dengan harga penjualan Rp750 per bata.
\"Alhamdulillah, di masa pandemi seperti sekarang ini, pemasaran bata merah masih bertahan untuk mendukung pembangunan proyek infrastruktur. Seperti rumah, gedung, pagar atau pondasi. Ketika ada yang perlu bata, biasanya orang-orang akan langsung menemui saya. Ada juga yang dari depot, sudah biasa langganan, kalau sudah siap kirim saya langsung bawa ke sana atau bisa juga diambil sendiri di sini, tergantung permintaan pembeli,” katanya.
Selain itu dirinya juga menjelaskan bahwa salah satu kendalanya ketika musim hujan dan mengakibatkan produksi bata merahnya harus dikurangi dan biasanya, proses pembakaranpun dua bulan sekali. Karena bagaimana juga produksi batu bata sangat tergantung dengan kondisi cuaca.
Sehingga dapat diartikan bahwa produktivitas batu bata ketika musim kemarau akan lebih banyak dibanding ketika musim hujan. Meski di masa pandemi Covid-19 ia tetap bertahan menekuni usaha produksi batu bata, di mana sistem pengerjaannya juga tidak berkumpul dengan banyak orang. Di samping itu, permintaan akan batu bata selama pandemi ini juga tetap stabil.
\"Meski di sini juga banyak yang produksi bata, saya bersyukur pelanggan masih ada yang beli dan harapan saya ke depannya saya mau coba manfaatin media sosial untuk memasarkan bata merahm,” katanya. (bae)