MAJALENGKA - Sejumlah sejarawan meminta Jl Ahmad Yani Kelurahan Majalengka Wetan Kecamatan Majalengka setelah pedestrian rampung segera diganti namanya. Pedestrian sendiri akan menjadi semakin mempercantik jalan tersebut lantaran diisi oleh banyaknya kursi, tempat penyimpanan sepeda dan dihiasi ratusan pot bunga. Rencananya juga, setelah beres renovasi, area tersebut akan diberlakukan satu arah.
Ketua Grup Majalengka Baheula (Grumala), Nana Rohmana mengusulkan agar penamaan Jalan Ahmad Yani diubah menjadi Jalan RT Dendanagara.
Nama Dendanagara ini tercatat sebagai bupati pertama di wilayah Kabupaten Majalengka. Penamaan jalan di Kota Majalengka dengan nama tokoh pahlawan lokal atau nasional diperkirakan sekitar tahun 1960-an.
“Adapun nama Jalan Ahmad Yani itu mulai berlaku sekira tahun 1990-an. Sebelumnya bernama Jalan KH Abdul Halim. Tahun 1950-an Jalan Suha itu namanya jalan Dipati Ukur. Jalan Ibu Tien Soeharto diganti jadi Jalan KH Abdul Halim,” beber Naro, sapaannya kemarin (2/2).
Bang Naro menyampaikan, sebelum Jalan Ibu Tien Soeharto, namanya adalah Jalan Raya Barat dari alun-alun ke arah barat. Atau sebaliknya, dari tengah Alun-alun Majalengka ke arah timur itu namanya Jalan Raya Timur. “Itu sewaktu masih zaman Belanda,” katanya.
Jika mau diganti atau diubah namanya, jalan depan pendopo ini sepertinya cukup dibahas yang melibatkan pihak eksekutif dan legislatif di daerah. Perubahan nama jalan Ibu Tien Seoharto menjadi KH Abdul Halim terealisasi pada zaman kepemimpinan Bupati Sutrisno dan Wakilnya Karna Sobahi. Itu tidak lama setelah ada penetapan gelar pahlawan nasional kepada KH Abdul Halim.
“Dulu itu, nama Jalan KH Abdul Halim ada di jalur Pujasera melewati pendopo, sampai perempatan Jalan Emen Slamet dekat SLB,” terangnya.
Naro menjelaskan, nama Raden Tumenggung (RT) Dendanagara merupakan tokoh lokal yang juga tercatat dalam dokumen naskah tertulis, yang hingga kini masih ada berkasnya. Dendanagara tercatat sebagai bupati pertama Majalengka. “Agar masyarakat mengetahui sejarah, siapa bupati pertama Majalengka. Jalan Ahmad Yani, kalau boleh usul, bagusnya diganti saja dengan nama jalan RT Dendanagara,” pinta Naro.
Selain Dendanagara tokoh-tokoh lokal lainnya juga perlu diangkat. Sebagai contoh, di Cigasong ada tokoh Tumenggung Natakarya atau Jagaweswa, yang lainnya Bagus Rangin. Termasuk di Talaga ada Simbar Kancana, Sachanata, dan masih banyak lagi. (ono)