MAJALENGKA - Kabag Quality Control PT PG Rajawali II unit Jatitujuh, Iip Saepudin mengatakan, produksi gula di pabrik belum sesuai kapasitas yang ada. Penyebabnya adalah luas areal lahan yang seluruhnya belum bisa tergarap. Menurut dia, musim produksi pabrik seharusnya 150 hari per tahun. Namun saat ini yang terpenuhi hanya 120 hari. Tentu saja karena bahan baku yang kurang dan tidak sebanding dengan kapasitas pabrik. Disebutkan, kapasitas produksi pabrik adalah 4 ribu ton per hari. Untuk memenuhi 120 hari produksi, butuh 480 ribu ton tebu dalam setahun. Sementara di lapangan, yang terealisasi hanya 183 ribu ton. Kualitas tebu sendiri tergantung dari rendemen atau kandungan gula yang ada dalam tebu. Untuk musim sekarang ini rendemen 7,41 persen. Sementara luas areal kurang lebih 11.921,56 hektar. \"Yang dipakai hanya sekitar 7.250 hektar,\" sebutnya. Sementara, Pengurus APTRI Kabupaten Majalengka Enjo berharap harga lelang tebu tahun ini minimal bisa mencapai Rp10.500. Ia berharap kejadian tahun lalu tidak terulang lagi dan membuat gula mengendap karena tak bisa dijual. Kalau harga lelang di bawah itu, keuntungan yang diperoleh petani cukup tipis. Karena untuk saat ini sewa lahan perkebunan tebu terus naik. Harga sewa di lahan sawah telah mencapai Rp7 juta per hektare. Itupun sulit diperoleh karena petani lebih memilih menanam padi. Sedangkan lahan tegalan telah mencapai Rp3 juta hingga Rp5 juta per hektar tergantung kondisi lahan dan jarak. Adapun kualitas rendemen untuk tahun ini cukup bagus minimal 7 hingga di angka 8 karena panen bertepatan dengan musim kemarau. Sehingga kadar air tidak terlalu tinggi. \"Tahun depan lahan perkebunan milik APRTI ditargetkan bisa mencapai 500 hektaran. Saat ini baru memperoleh sekitar 150 hektaran saja. Kondisi ini akibat banyaknya alih fungsi lahan terutama di wilayah Kertajati, Ligung dan Sumberjaya,\" imbuhnya. Menurutnya, lahan untuk tebu semakin sulit. Sementara swasembada gula terus dituntut. Diharapkan dengan harga lelang gula yang tinggi akan semakin banyak petani yang tertarik untuk menanam tebu. Disamping itu juga petani tebu meminta pemerintah pusat membatasi impor gula rafinasi. Hal ini agar tata niaga gula diperbaiki karena serbuan gula impor makin tidak terbendung. Kondisi ini membuat harga gula lokal milik petani jatuh di pasaran. “Ada banyak problem terkait kondisi sulit para petani tebu ini. Selain serbuan gula rafinasi, mayoritas kondisi pabrik gula sendiri kurang bagus karena usianya di atas 100 tahun. Sehingga produksi gula juga tidak bagus,” imbuhnya. (ono)
Produksi Gula Belum Optimal
Kamis 28-11-2019,11:47 WIB
Reporter : Leni Indarti Hasyim
Editor : Leni Indarti Hasyim
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Jumat 06-11-2026,10:33 WIB
Vandalisme MCC Dilaporkan ke Polisi, Tokoh Kreatif Dorong Dialog dengan Anak Muda
Jumat 06-11-2026,14:40 WIB
143 Pembina Pramuka Penggalang SMP ikuti KMD, Kwarcab Majalengka Perkuat Kompetensi Pembina Pramuka
Jumat 06-11-2026,08:33 WIB
Pengusaha Majalengka H. Aceng Sunanto Tawarkan Pekerjaan kepada Atlet Gantole Sumitra Sutarya
Jumat 06-11-2026,11:35 WIB
HKG PKK ke-54, Majalengka Perkuat Pemberdayaan Keluarga dan UMKM
Terkini
Jumat 06-11-2026,21:00 WIB
Peluang 3.492 PPPK Majalengka Diangkat Penuh Waktu, BKPSDM: Belum Ada Surat Resmi
Jumat 06-11-2026,20:16 WIB
Fakta Sumitra Sutarya Atlet Gantole Majalengka Disuport Perusahaan Tempatnya Bekerja
Jumat 06-11-2026,14:40 WIB
143 Pembina Pramuka Penggalang SMP ikuti KMD, Kwarcab Majalengka Perkuat Kompetensi Pembina Pramuka
Jumat 06-11-2026,14:00 WIB