Semua Ada Batasnya, KH Maman Imanulhaq Soroti Takdir, Kekuasaan, dan Loyalitas

Semua Ada Batasnya, KH Maman Imanulhaq Soroti Takdir, Kekuasaan, dan Loyalitas

Anggota DPR RI Dr. KH. Maman Imanulhaq, MM-Dok-Istimewa

RADARMAJALENGKA.COM – Kekuasaan sering kali membuat seseorang merasa mampu mengendalikan segalanya. Jabatan, jaringan, informasi, hingga loyalitas orang-orang di sekitarnya dapat menciptakan keyakinan bahwa dirinya berada dalam posisi yang sulit digoyahkan.

Namun, kekuasaan tidak pernah bersifat abadi. Ada batas yang tidak bisa dilampaui manusia, termasuk dalam mengendalikan nasibnya sendiri.

Pesan tersebut menjadi refleksi menarik yang disampaikan Dr. KH. Maman Imanulhaq Anggota DPR RI Fraksi PKB, melalui tulisan berjudul Refleksi tentang Takdir, Kekuasaan, dan Pergiliran Nasib.

Dalam pemikirannya, Maman mengajak masyarakat melihat kekuasaan bukan hanya dari perspektif politik dan birokrasi, tetapi juga melalui nilai moral, tanggung jawab, dan kesadaran tentang takdir.

BACA JUGA:MNSkin Resmi Diluncurkan di Konser Dewa 19, Bagikan 10.421 Produk Skincare Gratis dan Pecahkan Rekor MURI

Ia menyoroti sejumlah dinamika kekuasaan di Indonesia dengan mengambil pelajaran dari kasus Ferdy Sambo, mantan Kadivpropam Polri, dinamika penegakan hukum yang melibatkan Febrie Adriansyah selaku Jampidsus Kejaksaan Agung, serta perjalanan kepemimpinan Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri.

Ketiganya menjadi gambaran tentang bagaimana informasi, loyalitas, dan momentum memiliki peran penting dalam membentuk dinamika kekuasaan.

Informasi, Loyalitas, dan Momentum dalam Kekuasaan

Menurut Maman, dalam politik dan birokrasi, informasi merupakan salah satu instrumen kekuatan. Pihak yang memiliki informasi lebih awal mempunyai kesempatan untuk mengantisipasi keadaan dan menentukan langkah strategis.

Namun, informasi juga berpotensi menjadi instrumen pengawasan, tekanan, bahkan penyalahgunaan kewenangan apabila tidak dibatasi oleh hukum.

Begitu pula dengan loyalitas. Dalam sebuah institusi, loyalitas sering dianggap sebagai fondasi kekuatan. Akan tetapi, hubungan tersebut tidak selalu permanen karena perubahan kepentingan, kepemimpinan, dan situasi dapat mengubah arah dukungan.

BACA JUGA:Visi Motor 3.0: OMO-Riders Bandung Jajal Ketangguhan OMO-X di Medan Berbukit

Sementara itu, momentum menjadi faktor yang menentukan perjalanan seseorang dalam kekuasaan.

Seseorang bisa mencapai posisi puncak karena mampu membaca keadaan. Namun, momentum kemenangan tidak pernah menjadi milik seseorang untuk selamanya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: