Jelang Tahun Baru 2026, Penjual Terompet Sepi Pembeli

Jelang Tahun Baru 2026, Penjual Terompet Sepi Pembeli

Sarmita (45) telah dua hari berjualan di sekitar Kota Majalengka, namun hingga kini, hasil penjualan masih jauh dari harapan.-Ono Cahyono-radarmajalengka

MAJALENGKA, RADARMAJALENGKA.COM - Suasana menjelang perayaan malam Tahun Baru 2026 tidak sepenuhnya membawa berkah bagi para pedagang musiman.

Di Kabupaten Majalengka, sejumlah penjual terompet mengeluhkan anjloknya penjualan. Kondisi ini dinilai jauh berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Pantauan di sejumlah titik keramaian di Kota Majalengka, Selasa (30/12/2025), menunjukkan lapak-lapak penjual terompet tampak sepi pembeli.

Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, terompet menjadi salah satu barang yang paling diburu masyarakat dan kerap habis terjual sehari sebelum malam pergantian tahun.

BACA JUGA:Bupati Eman Suherman Jamin Harga Pangan Stabil

Salah seorang penjual terompet asal Palimanan, Kabupaten Cirebon, Sarmita (45), mengaku telah dua hari berjualan di sekitar Kota Majalengka. Namun hingga kini, hasil penjualan masih jauh dari harapan.

“Saya sudah dua hari berjualan di sini, tetapi pembelinya sangat sepi,” tutur Sarmita.
Sarmita yang biasa mangkal di kawasan lampu merah Abok, Majalengka, menuturkan bahwa dirinya tidak hanya berjualan di satu lokasi, tetapi juga berkeliling ke permukiman warga menggunakan sepeda motor dengan harapan dagangannya laku terjual.

Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil yang signifikan. Dari sekitar 100 terompet yang dibawanya, baru sekitar 10 buah yang berhasil terjual.

Bahkan, terompet tersebut terpaksa dijual dengan harga lebih murah, yakni Rp15 ribu per buah, jauh di bawah harga normal yang biasanya berkisar antara Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per terompet.

BACA JUGA:Majalengka Berhaji, Ikhtiar BSI dan Pemkab Wujudkan Mimpi ke Tanah Suci

“Kalau harganya tidak diturunkan, sama sekali tidak laku. Hasilnya juga hanya cukup untuk makan,” keluhnya.

Ia menilai lesunya penjualan terompet tahun ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Selain minimnya minat pembeli, jumlah pedagang terompet yang semakin banyak juga turut memperketat persaingan.

“Kalau dibandingkan tahun lalu, kondisinya jauh lebih ramai. Tahun lalu terompet cepat habis, sekarang benar-benar sepi,” pungkasnya. (ono)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: