Wasit Asal Jepang Ini Akui Perlu Belajar Umpatan dalam Bahasa Indonesia! Ternyata ini Alasannya!

Wasit Asal Jepang Ini Akui Perlu Belajar Umpatan dalam Bahasa Indonesia! Ternyata ini Alasannya!

Wasit asal Jepang, Yudai Yamamoto, blak-blakan ingin belajar umpatan dalam bahasa Indonesia- -radarmajalengka.com

RADARMAJALENGKA.COM Yudai Yamamoto, wasit baru asal Jepang di Indonesia Super League 2025/2026, menyita perhatian publik setelah secara blak-blakan mengaku ingin mempelajari umpatan dalam bahasa Indonesia.

Bukan untuk digunakan, melainkan agar dapat memahami konteks emosi di lapangan dan menegakkan aturan secara proporsional.

"Sebagai wasit tentu jika mendapatkan kata-kata yang tidak pantas berpotensi mendapat hukuman," ujarnya dalam jumpa pers di kantor I.League, Jakarta, Senin (22/12).

Yamamoto menegaskan, bahasa adalah perangkat kerja krusial bagi pengadil pertandingan, terlebih bagi wasit asing yang bertugas di liga baru.

BACA JUGA:Bantuan BLT Kesra 2025 Cair Rp900 Ribu? Cek Syarat, Cara Cek, dan Jadwal Penyalurannya!

"Dari saya sendiri, sebuah keharusan belajar bahasa Indonesia untuk menjaga ketertiban pertandingan," kata pengadil yang sudah enam kali memimpin laga Super League musim ini.

Menurutnya, memahami kosakata (termasuk ekspresi kasar) dapat membantu membaca intensi pemain, membedakan "sekadar ekspresi panas" dengan sikap melecehkan yang patut diberi sanksi.

Isu soal jarangnya kartu merah dari peluit Yamamoto juga sempat mengemuka. Ia menegaskan tidak ada kebijakan khusus untuk "menghemat" kartu.

"Saya orang yang lembut, tapi di atas lapangan tentu harus ada garis batas antara wasit dan pemain. Saya harus mampu mengeluarkan keputusan yang tepat," tegasnya.

BACA JUGA:Cek Bansos Kemensos: Panduan Lengkap Cara Cek PKH, BPNT, hingga BLT Kesra Desember 2025 via Situs & Aplikasi

Soal enam laga yang bebas kartu merah, Yamamoto menyebut, "Kebetulan saja tidak ada kartu merah… ya, itu hanya kebetulan."

Penekanan dari dirinya dinilai sederhana namun standar tetap sama, keputusan mengikuti insiden, bukan reputasi atau preferensi pribadi.

Di sisi teknis, Yamamoto membandingkan karakter permainan Indonesia dengan Jepang. Menurutnya, Liga Jepang lebih konsisten dalam hal pace atau tempo, sedangkan di Indonesia tempo cenderung fluktuatif.

Perbedaan ini berdampak pada manajemen waktu, keuntungan/kerugian bermain cepat, dan pengendalian emosi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait